Kamis, 29 Mei 2008

Tentang Diskusi

Kita pasti pernah berdiskusi. Nah, artikel ini berisi beberapa poin penting dari beberapa diskusi yang saya ikuti atau saya amati. Tujuannya supaya kita lebih mahir dalam memetakan persoalan yang dibahas.

Extreme Extrapolation


Tiap individu memiliki pengalaman yang khas. Begitu juga halnya dengan kelompok, masyarakat, atau bahkan suatu negara. Pengalaman tersebut, baik disukai ataupun tidak, akan kita jadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyimpulkan banyak hal.

Sebagai contoh, saya pernah mengalami gangguan pencernaan yang sangat, sangat menyusahkan. Ini terjadi setelah saya makan kerang goreng dan gulai kambing. Sejak saat itu, saya selalu menghindari olahan kerang yang disajikan bersama lauk berlemak. Pada kasus ini, pengalaman di masa lampau saya jadikan alasan untuk menghindari sesuatu. Sementara itu, belum tentu alasan ini berlaku untuk orang lain.

Pada skala global, kita mengenal ada yang namanya liberalisme, demokrasi, sosialisme, feminisme, nasionalisme, dan berjibun pemahaman lainnya. Sebagian dari pemahaman yang ada di dunia merupakan tanggapan atas kejadian lokal di masa tertentu. Sementara itu, belum tentu semua tempat di Bumi pernah mengalami kejadian yang sama. Jadi, mungkin saja aturan yang dijalankan suatu daerah tidak dapat atau tidak cocok untuk diterapkan daerah lain, hanya karena alasan yang melatarbelakanginya tidak bersifat global.

Nah, dari paparan di atas, kita harus hati-hati dalam menjelaskan argumentasi atau dalam menyimak suatu penjelasan. Harus selalu diingat bahwa tidak semua hal yang pernah terjadi layak dijadikan alasan bagi semua orang.

Majestic Majority


Dalam kehidupan modern, merupakan hal yang lazim kehendak mayoritas dijadikan sebagai rujukan. Kita sebaiknya hati-hati pada cara pengambilan keputusan seperti ini. Ini karena tidak semua hal layak diputuskan dengan mengikuti kehendak mayoritas.

Memang, ada beberapa hal yang tidak termasuk dalam masalah benar-salah. Sebagai contoh, pada dasarnya, menjalankan kendaraan di ruas kanan atau kiri jalan merupakan suatu kebolehan. Namun, untuk menimbulkan ketertiban, ditetapkan aturan penggunaan ruas jalan. Penetapannya bisa dan boleh dengan mengikuti kehendak mayoritas. Akan tetapi, sekali lagi, tidak semua masalah boleh diputuskan semata-mata dengan mengikuti kehendak mayoritas.

Beberapa masalah harus diputuskan dengan pertimbangan benar-salah. Sebagai contoh, persoalan ilmu pasti sama sekali tidak menghiraukan kehendak mayoritas. Sebanyak apapun manusia yang yakin bahwa Bumi itu datar, kenyataan tetap menunjukkan bahwa Bumi itu bulat. Jadi, yang namanya "kebenaran mutlak" itu memang ada, meskipun tidak semua hal tercakup di dalamnya.

Nah, masalahnya yaitu apakah "kebenaran mutlak" ada dalam perkara selain ilmu pasti. Biasanya, ketika ada yang menyatakan bahwa "kebenaran mutlak" itu mencakup beberapa hal juga di luar ilmu pasti, banyak dari kita yang serta-merta menolak.

Transcendental Tradition


Biasanya, kita melakukan sesuatu sesuai dengan kebiasaan umum di lingkungan. Kebiasaan umum ini sering kita sebut dengan istilah tradisi. Pada dasarnya, mengikuti tradisi itu sama sekali bukan merupakan masalah. Yang merupakan masalah yaitu jika dianggap bahwa tradisi itu selalu benar.

Sebagai contoh yaitu usaha pelestarian kebudayaan lokal. Dikatakan bahwa kebudayaan lokal merupakan karya yang menunjukkan tingginya tingkat kreasi masyarakat sehingga harus dijaga. Dengan demikian, segala bentuk karya manusia dari luar masyarakat harus disesuaikan sehingga membaur dengan kebudayaan lokal.

Masalahnya yaitu mengapa harus kebudayaan lokal yang dijadikan rujukan? Bukankah pada dasarnya kebudayaan merupakan karya manusia pada tempat dan masa tertentu? Apakah memang semua kebudayaan lokal itu "baik"? Standard "baik" siapakah yang harus diikuti kalau begitu?

Di berbagai tempat di dunia, terdapat budaya duel, mulai dari duel pistol di Barat hingga adu senjata tajam di Nusantara. Layakkah kebudayaan tersebut dilestarikan? Di beberapa tempat di dunia, perempuan tidak menutupi tubuh bagian atasnya. Akan dibiarkankah hal ini dengan alasan pelestarian kebudayaan lokal?

Memang tidak semua tradisi itu buruk. Banyak sekali tradisi yang "baik". Namun, harus selalu diingat bahwa semata-mata merujuk pada tradisi untuk menguatkan klaim sama sekali bukan hal yang pasti masuk akal. Argumentasi dari suatu klaim harus masuk akal, bukan semata-mata mengikuti tradisi.

Prejudicial Premises


Dalam berbagai-bagai diskusi, kadang-kadang saya jumpai adanya pihak yang menanggapi dengan premis tersembunyi. Ini sangat menyusahkan karena untuk memberi tanggapan balik, dibutuhkan usaha yang besar untuk terlebih dahulu mengungkap premis tersembunyinya. Lebih menyusahkan lagi jika ada orang awam yang menyimak jalannya diskusi. Selalu ada kemungkinan orang awam tersebut menerima begitu saja klaim yang didasarkan pada premis tersembunyi.

Sebagai contoh yaitu seseorang yang berpandangan bahwa nasionalisme seharusnya dihilangkan. Penyanggah menolak pandangan ini dengan menyatakan bahwa seharusnya kita menghargai jasa para pahlawan pengusir penjajah. Orang awam mungkin akan tergugah semangatnya karena mendengar anjuran menghargai jasa pahlawan. Padahal, ada premis tersembunyi, yaitu bahwa nasionalisme bermakna menghargai jasa para pahlawan. Apakah memang ini makna nasionalisme?

Contoh lain yaitu seseorang yang menolak suatu falsafah sebagai landasan bernegara. Penyanggah mungkin akan membuka serangan dengan bertanya apakah si penolak cinta negerinya atau tidak. Tentu orang awam akan takut dikatai tidak cinta negerinya karena seolah-olah orang yang menolak falsafah negaranya berarti tidak cinta negerinya, yang berarti memecah persatuan atau menghambat kemajuan. Apakah memang menolak falsafah negara berarti menolak persatuan atau kemajuan?

Adakalanya seseorang menggunakan teknik penyembunyian premis karena dia memang tidak tahu hakikat topik yang dibahas dan menganggap orang lain sepaham dengan dia. Jika begini kejadiannya, tidak perlu dipermasalahkan. Yang perlu dilakukan hanya memetakan ulang masalahnya. Tapi, bagi kita yang sudah paham, jangan pernah gunakan teknik ini dengan sengaja. Premis tersembunyi sungguh menyusahkan.

0 komentar: