Sebagai pengantar artikel ini, silakan baca Bulan yang Jadi Bulan-Bulanan!
Saya mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa awal dan akhir Ramadhan ditentukan melalui rukyat global. Masalah yang mungkin timbul yaitu jika informasi hilal terlambat diterima. Alhamdu lillah solusinya sudah jelas yakni harus mengganti puasanya di bulan lain jika terkait dengan awal Ramadhan atau menyelenggarakan salat id pada 2 Syawal jika terkait dengan akhir Ramadhan.
Saya menduga masih ada masalah lain terkait dengan garis batas tanggal internasional. Garis ini ada di sekitar bujur 180°. Waktu pada barat garis ini tepat 24 jam setelah waktu pada sisi timurnya. Jadi jika bepergian dan melintasi garis ini dari timur ke barat, kalender yang kita gunakan harus dimajukan sehari. Kalender kita mundurkan sehari jika pergerakannya dari barat ke timur.
Masalahnya yaitu saya tidak tahu masalahnya. Serius ini!
Exemplary Experiment
Untuk mengungkap masalahnya, jika memang ada, saya membuat simulasi teramatinya hilal pada berbagai bujur. Untuk menyederhanakan masalah, saya hanya meninjau perbedaan bujur lokasi. Selain itu, saya menganggap hilal teramati pada pukul 18:00 dan garis batas tanggal internasional berupa garis bujur 180°. Berikut contoh kasus yang saya temukan.
Tabel 1. Simulasi perbedaan waktu lokal ketika hilal teramati.
bujur lokasi kasus 1 kasus 2 150°BB 9 Oktober 18:00
(hilal nampak)8 Oktober 22:00 120°BB 9 Oktober 20:00 9 Oktober 00:00 90°BB 9 Oktober 22:00 9 Oktober 02:00 60°BB 10 Oktober 00:00 9 Oktober 04:00 30°BB 10 Oktober 02:00 9 Oktober 06:00 0° 10 Oktober 04:00 9 Oktober 08:00 30°BT 10 Oktober 06:00 9 Oktober 10:00 60°BT 10 Oktober 08:00 9 Oktober 12:00 90°BT 10 Oktober 10:00 9 Oktober 14:00 120°BT 10 Oktober 12:00 9 Oktober 16:00 150°BT 10 Oktober 14:00 9 Oktober 18:00
(hilal nampak)
Untuk menganalisis simulasi tadi, saya menggunakan asumsi bahwa subuh terjadi pada pukul 05:00. Pun saya mengabaikan variasi gerak benda langit pada lintang yang berbeda. Berikut ilustrasi kedua kasus yang saya buat.
Gambar 1. Ilustrasi kasus ketika hilal pertama teramati pada 150°BB. -- Klik pada gambar untuk memperbesar!
Sejauh yang saya pahami pada kasus pertama, puasa dimulai tanggal 10 Oktober. Daerah hijau menandai kawasan yang dapat memulai puasa pada tanggal ini, sementara daerah merah menandai kawasan yang tidak sempat berniat puasa sehingga harus mengganti sehari puasanya di bulan lain.
Gambar 2. Ilustrasi kasus ketika hilal pertama teramati pada 150°BT. -- Klik pada gambar untuk memperbesar!
Sejauh yang saya pahami pada kasus kedua, puasa dimulai tanggal 10 Oktober. Daerah hijau menandai kawasan yang dapat memulai puasa pada tanggal ini, sedangkan daerah biru menandai kawasan yang, ternyata, membingungkan saya. Daerah biru masih berada pada tanggal 8 Oktober sehingga tidak perlu berpuasa keesokan harinya jika dianggap bahwa puasa dimulai tanggal 10 Oktober.
Ternyata memang ada masalah. Sumber masalahnya yaitu garis batas tanggal internasional. Pada kasus kedua di atas, kawasan sekitar 150°BB merupakan kawasan yang tidak jauh dari lokasi teramatinya hilal. Saya tidak nyaman dengan kesimpulan awal bahwa kawasan ini harus menunggu sehari setelah hilal teramati untuk memulai puasa. Saya galau.
Backtrack, We have To
Mari kita kembali pada dalil-dalil awal dan akhir Ramadhan, yang dapat dilihat dalam Bulan yang Jadi Bulan-Bulanan! Semua dalil menunjukkan dengan jelas bahwa Ramadhan diawali dan diakhiri dengan rukyat hilal. Seruan ini berlaku umum untuk muslim di manapun; begitu seorang muslim menerima kabar hilal, dia harus bersiap untuk puasa keesokan harinya. Mari kita lupakan sejenak adanya konsep garis batas tanggal internasional!
Mari kita pusatkan perhatian pada garis bujur lokasi yang pertama kali dapat melihat hilal! Garis ini dan perpanjangannya membagi permukaan Bumi menjadi dua daerah tanpa menghiraukan tanggalnya, yakni 1) daerah yang akan menyusul melihat hilal dan 2) daerah yang sudah tertinggal melihat hilal. Daerah yang akan menyusul melihat hilal jelas harus bersiap puasa besoknya. Sementara itu, daerah yang telah tertinggal melihat hilal terbagi menjadi dua daerah.
Di timur lokasi yang pertama kali dapat melihat hilal, ada kawasan yang dapat menerima kabar teramatinya hilal sebelum subuh dan ada yang sesudahnya. Kawasan pertama sempat berniat puasa, sedangkan kawasan kedua tidak. Jadi, kawasan di timur garis batas subuh ini harus mengganti sehari puasanya di bulan lain. Lokasi garis batas subuh ini berubah-ubah karena lokasi teramatinya konjungsi Bulan-Matahari juga berubah-ubah.
Gambar 3. Ilustrasi daerah yang akan menyusul melihat hilal dan daerah yang sudah tertinggal melihat hilal. -- Klik pada gambar untuk memperbesar!
Insya Allah analisis di atas tetap mengikuti makna lafal dalil. Yang menyenangkan saya yaitu masalah seputar garis batas tanggal internasional terselesaikan. Saya sudah agak tenang.
Finale
Kesimpulan akhir saya yaitu bahwa lokasi yang pertama melihat hilal menjadi batas dua daerah. Daerah di barat lokasi ini harus memulai puasa keesokan harinya menurut tanggal lokal, sedangkan daerah di timurnya dianggap telah melewatkan hilal pada sore hari menurut tanggal lokal. Berikut perbaikan ilustrasi analisis kedua kasus simulasi saya.
Gambar 4. Ilustrasi kasus ketika hilal pertama teramati pada 150°BB. -- Klik pada gambar untuk memperbesar!
Gambar 5. Ilustrasi kasus ketika hilal pertama teramati pada 150°BT. -- Klik pada gambar untuk memperbesar!
Alhamdu lillah.
Gambar 1. Perubahan posisi bintang terhadap rujukan kebumian karena pergerakan Bumi mengelilingi Matahari.
Gambar 2. Perubahan posisi bintang pada bola langit, dibandingkan dengan perubahan tahunan asensiorekta dan deklinasi Matahari.
Gambar 3. Sejumlah titik rujukan untuk menghitung asensiorekta dan deklinasi teramati bintang.
Gambar 4. Segitiga bola untuk menghitung besar pergeseran posisi bintang serta asensiorekta dan deklinasi teramatinya.
Giliran 1 (Hitam): menaruh (Turn 1 (Black): summoning)
Giliran 2 (Putih): menaruh dan mendorong (Turn 2 (White): summoning and pushing)
Giliran 3 (Hitam): dua kali menaruh (Turn 3 (Black): summoning twice)
Giliran 4 (Putih): mendorong dan menaruh (Turn 4 (White): pushing and summoning)
Giliran 5 (Hitam): mendorong dan menaruh (Turn 5 (Black): pushing and summoning)
Giliran 6 (Putih): dua kali berpindah (Turn 6 (White): moving twice)
Giliran 7 (Hitam): berpindah dan mendorong (Turn 7 (Black): moving and pushing)
Giliran 8 (Putih): berpindah (Turn 8 (White): moving)
Giliran 9 (Hitam): dua kali menaruh (Turn 9 (Black): summoning twice)
Giliran 10a (Putih): menaruh dan terkurung; bunuh diri; ilegal (Turn 10a (White): summoning and surrounded; suicide; illegal)
Giliran 10b (Putih): dua kali menaruh (Turn 10b (White): summoning twice)
Giliran 11 (Hitam): dua kali menaruh (Turn 11 (Black): summoning twice)
Giliran 12 (Putih): menaruh dan mendorong (Turn 12 (White): summoning and pushing)
Giliran 13 (Hitam): mendorong, menaruh, dan menangkap tiga unit (Turn 13 (Black): pushing, summoning, and capturing three pieces)
Giliran 14 (Putih): menaruh dua kali (Turn 14 (White): summoning twice)
Giliran 15 (Hitam): dua kali berpindah (Turn 15 (Black): moving twice)
Giliran 16 (Putih): dua kali menaruh (Turn 16 (White): summoning twice)
Giliran 17 (Hitam): berpindah dan mendorong (Turn 17 (Black): moving and pushing)
Giliran 18 (Putih): dua kali menaruh (Turn 18 (White): summoning twice)
Giliran 19 (Hitam): dua kali menaruh (Turn 19 (Black): summoning twice)
Giliran 20 (Putih): dua kali menaruh (Turn 20 (White): summoning twice)
Giliran 21 (Hitam): dua kali menaruh dan menangkap satu unit (Turn 21 (Black): summoning twice and capturing one piece)
Giliran 22 (Putih): mendorong dan menaruh (Turn 22 (White): pushing and summoning)
Giliran 23 (Hitam): menaruh dan menangkap satu unit (Turn 23 (Black): summoning and capturing one piece)
Giliran 24 (Putih): dua kali menaruh dan menangkap 14 unit (Turn 24 (White): summoning twice and capturing 14 pieces)
\Giliran 25 (Hitam): dua kali menaruh (Turn 25 (Black): summoning twice)
Giliran 26 (Putih): melepas giliran (Turn 26 (White): pass)
Giliran 27 (Hitam): mendorong dan menaruh (Turn 27 (Black): pushing and summoning)
Giliran 28 (Putih): melepas giliran (Turn 28 (White): pass)
Giliran 29 (Hitam): berpindah, menaruh, dan menangkap satu unit (Turn 29 (Black): moving, summoning, and capturing one piece)
Giliran 30 (Putih): melepas giliran (Turn 30 (White): pass)
Giliran 31a (Hitam): melepas giliran; dua giliran dilepas berturut-turut; permainan berakhir (Turn 31a (Black): pass; two consecutive passes; game over)
Giliran 31b (Hitam): menaruh dan mendorong (Turn 31b (Black): summoning and pushing)
Giliran 32 (Putih): dua kali menaruh (Turn 32 (White): summoning twice)